Home » , » Urip iku Kudu Urup : Falsafah jawa

Urip iku Kudu Urup : Falsafah jawa

Written By wonk bejho on Selasa, 03 Desember 2019 | 22.26.00

Urip iku Kudu Urup : Falsafah jawa

Urip iku Kudu Urup : Falsafah jawa

"Urip iku kudu urup" begitulah bunyi salah satu falsafah hidup dan Wejangan dari Sunan Kalijaga yang telah diwarisi dari generasi ke generasi dan yang sarat dengan makna itu. Secara harfiah falsafah tersebut berarti "hidup itu karus menyala". Yang jika ditafsirkan, falsafah ini mempunyai pengertian bahwa hidup yang kita jalani ini haruslah membawa manfaat dan berkah bagi orang lain dan sekitar kita. Semakin besar manfaat yang kita berikan tentu akan semakin baik bagi kita maupun orang lain, namun sekecil apapun manfaat yang kita berikan kepada orang lain jangan hingga kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat.

Makna filosofi ini luar biasa, bahwa kita dilahirkan di dunia ini bukan buat berdiri sendiri, berkuasa dan seluruh hanya buat diri sendiri, akan namun kita lahir buat saling memberi, menolong dan membantu sesama tanpa ada rasa pamrih. Semua agama poly mengupas hal ini bahwasannya manusia sebagai makhluk sosial harus saling kontak dan menolong kepada sesama.

Ajaran yang terkandung dalam falsafah tersebut tentu saja merupakan warisan ajaran luhur yang bukan saja harus kita hormati tapi juga harus kita lakoni dalam kehidupan sehari-hari. Meski ajaran ini mungkin telah berumur sangat tua, namun kita masih melihat dan merasakan relevansinya yang kuat dengan nilai-nilai kemusiaan yang kita yakini hari ini. Ini tentu juga dikarenakan ajaran yang terkandung di dalamnya memanglah merupakan prinsip universal yang bersifat abadi. Sebuah hukum yang berlaku selamanya dan berlaku dimanapun.

Keluhuran ajaran dalam falsafah yang satu ini menjadi sebuah ajaran yang mendorong kita untuk menjadi manusia sebagaimana harusnya manusia. Menjadi manusia yang sejati. Menjadi manusia yang hidup seutuhnya dan selaras dengan fitrah penciptaannya. Dan hidup yang demikian itu bukanlah saja merupakan kodrat atau sebuah keharusan yang mesti kita capai, melainkan juga karena hal itu sangatlah berkaitan erat dengan capaian kebahagiaan dan kedamaian diri kita sendiri.

“Urip iku kudu urup”

Wejangan dari Sunan Kalijaga yang baik ini harusnya kita coba renungkan dan apabila telah mencapa suatu perenungan yang dalam maka tugas selanjutnya adalah mempraktikkannya.
Wejangan yang begitu simpel, namun ketika kita mencoba mendalami maka akan tersirat makna yang begitu dalam, apalagi apabila kita mecoba mengimplementasikannya dalam hidup maka akan menjadi suatu tantangan tersendiri. Diartikan secara bebas wejangan tersebut adalah “hidup itu harus menyala”.

Interpretasi saya pertama ketika mencoba mendalaminya, ialah bahwa wejangan ini dimensinya adalah dimensi horizontal namun ternyata setelah didalami maka goresan dimensi vertikal ternyata muncul pula. Dimesi horizontal artinya wejangan ini berguna dalam praktik kehidupan sosial kita.

Sisi berikutnya adalah pada tataran vertikal -yaitu kaitannya dengan sang Maha Pencipta-, urup disini -atau menyala dalam bahasa indonesia- berarti bahwa mencolok atau terbaik. Artinya kita sebagai hamba harus menjadi pribadi religius yang terbaik, terbaik disini bukanlah suatu outputmelainkan suatu proses, dengan demikian dalam pengahambaan kita atau peribadatan kita kepada sang Pencipta haruslah selalu memperbaiki hingga (mencoba) menjadi yang terbaik.

Kita manusia memanglah diciptakan oleh Sang Pencipta dalam sebuah setting kejiwaan yang hanya dapat mencapai kebahagiaan hakikinya jika kita menjadi orang baik dan berguna. Semakin banyak dan besar kebaikan yang kita buat dalam hidup ini - semakin bermanfaat diri kita - maka akan semakin dekat juga kita dengan kebahagiaan yang hakiki itu. Karenanya itulah falsafah Jawa yang satu ini dapatlah kita katakan merupakan petunjuk mendasar yang akan menuntun kita kepada kemanusiaan kita yang esensial.

Meski mungkin pada masanya dulu falsafah ini sangatlah populer, meresap dalam batin dan menjiwai prilaku hidup masyarakat nusantara pada waktu itu, namun tidaklah kita pungkiri bahwa pada saat ini terbilang sedikit orang yang mengenal dan memahami falsafah hidup ini dengan baik, terlebih lagi yang melakoninya. Dengannya menjadi hal yang penting bagi kita yang peduli kepada keluhuran budi, budaya dan masa depan bangsa kita ini - untuk menghargai, menggali nilai-nilai luhur dan kearifan bangsa ini. Yang kemudian secara sadar melakoninya dalam kehidupan sehari-hari dan mengajarkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat luas.

Bung Karno pernah berkata bahwa salah satu kelemahan bangsa kita ialah bahwa kita kurang percaya kepada diri kita sendiri sebagai bangsa. Padahal, untuk menjadi bangsa yang kuat, mengharuskan kita untuk tumbuh mengakar di atas budaya dan jati diri bangsa kita sendiri. Karenanya haruslah ada upaya-upaya untuk membawa bangsa ini kepada rasa bangga, cinta dan gandrung kepada nilai-nilai, kearifan yang berasal dari akar budaya bangsanya sendiri.

Jika ajaran yang dapat dikatakan sederhana namun luhur ini dapat terjiwai dengan baik oleh masyarakat kita dan jika setiap orang bersedia melakoninya, hal ini bukan saja akan mengeratkan persatuan dan kesatuan bangsa, bahkan akan mampu membawa bangsa kita menjadi bangsa yang adil makmur sejahtera. Janganlah hidup kita selalu membuat galau masyarakat, mengganggu ketenangan lantaran hal itu tidak sesuai kodrat kita sebagai makhluk mulia.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.